Rabu, 28 Desember 2011

Pelapisan Sosial di Bali

Pelapisan Sosial di Bali
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).

Pengertian
Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.

Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.

Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
Tiga Sifat Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedakan menjadi sistem pelapisan sosial tertutup, sistem pelapisan sosial terbuka, dan sistem pelapisan sosial campuran.
Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbatas pada mobilitas horisontal saja. Contoh:
- Sistem kasta.
Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brahmana.
- Rasialis.
Kulit hitam (negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa pindah kedudukan di posisi kulit putih.
- Feodal.
Kaum buruh tidak bisa pindah ke posisi juragan/majikan.

b. Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)
Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh:
- Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
- Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.
c.Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial c a m p u r a n m e r u p a k a n kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali b e r k a s t a Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.

Sebenarnya penduduk (suku) Bali berdasarkan waktu kedatangan dan bermukim di Bali, itu dibagi menjadi tiga kelompok masyarakat. Pertama itu disebut dengan masyarakat Bali Mula, merupakan masyarakat yang memang mula-mula bermukim di Bali. Kedua, adalah masyarakat Bali Aga yang merupakan masyarakat imigran dari India yang masuk ke Indonesia termasuk ke pulau Bali dan yang terakhir adalah adalah Bali Arya adalah kelompok masyarakat Bali yang berasal dari kerajaan Majapahit ketika menguasai Bali sekitar abad XIV Masehi. Masing-masing kelompok masyarakat tersebut membawa berbagai pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan Bali ketika mereka datang dan bermukim di pulau Bali.

Murid –murid Rsi Markandya yang dikenal dengan sebutan Wong Aga, ada yang menetap di desa-desa di pulau Bali yang dilalui oleh Rsi Markandya. Akhirnya terjadilah pembauran antara Wong Aga dengan orang –orang Bali Mula. Di tengah pembauran itu para Wong Aga melakukan berbagai penyebaran kebudayaan, seperti budaya bercocok tanam secara teratur dan penyebaran ajaran agama Hindu seperti apa yang diajarkan oleh Rsi Markandya kepada mereka. Akhirnya agama Hindu pun diterima dengan baik oleh orang –orang Bali Mula. Hasil pembauran antara orang Bali Mula dengan Wong Aga itu menghasilkan orang Bali “tipe baru” yang dikenal dengan orang Bali Aga. Jadi, kedatangan Wong Aga bersama Rsi Markandya ke Bali, membawa pengaruh besar terhadap sistem kepercayaan masyarakat Bali Mula, yaitu yang awalnya hanya mengenal animisme mulai mengenal sebuah agama yaitu agama Hindu. Selain itu, ada sumber yang mengatakan, masuknya Rsi Markandya dan Wong Aga yang notabene merupakan imigran dari India membawa pengaruh terhadap perubahan sistem pemerintahan pada masyarakat Bali Mula. Yaitu masyarakat Bali Mula mulai mengenal sistem pemerintahan kerajaan dengan raja sebagai pemimpinnya.

orang Bali Arya adalah orang yang datang ke Bali ketika, Bali dikuasai oleh kerajaan Majapahit pada tahun 1343 M. Tujuan dari kerajaan Majapahit menguasai Bali tiada lain adalah untuk menjalankan misi dari Patih kerajaan tersebut yaitu Gajah Mada yang bertekad mempersatukan nusantara di bawah naungan kerajaan Majapahit, yang sekarang misi Patih Gajah Mada ini dikenal dengan Sumpah Palapa. Penaklukan Bali oleh Majapahit ini, menimbulkan ketidakpuasan dari para raja-raja Bali Aga. Ketidakpuasan ini disebabkan karena sikap Majapahit yang angkuh dan sombong sebagai pemenang dan kurang bijaksana. Timbullah pemberontakan. Karena merasa tak mampu menandingi kekuatan Majapahit, para raja-raja Bali Aga beserta keturunannya mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Kemudian, setelah berhasil menguasai, Majapahit melakukan beberapa reformasi pada sistem kemasyarakatan Bali, salah satunya pada stratifikasi atau pelapisan sosial. Sebelum dikuasai oleh Majapahit, sistem pelapisan sosial pada masyarakat Bali Aga adalah berupa sistem warna, dimana penggolongan masyarakat didasarkan atas profesi yaitu Brahmana, Ksatriya, Weisya, Sudra dan budak. Namun, setelah dikuasai Majapahit, sistem warna itu diganti dengan sistem wangsa yaitu penggolongan berdasarkan keturunan. Pembedaan berdasarkan keturunan ini bertujuan agar dapat memperkokoh kekuasaan Majapahit di Bali. Hal ini diperkuat pula dengan peraturan undang-undang yang dibuat oleh Majapahit yang mengakibatkan kedudukan Majapahit semakin kuat dan pembatasan kebebasan interaksi antar golongan tersebut.

Beberapa perbedaan yang terdapat pada orang Bali Aga dan Bali Arya. Pertama, desa-desa Bali Aga dipimpin secara berkelompok, namun pada desa Bali Arya, pemerintahan dipimpin secara perorangan oleh kepala desa. Kedua, desa Bali Aga tidak mengenal sistem wangsa sedangkan desa Bali Arya mengenal sistem wangsa. Dari segi pengaruh Hindu Majapahit, pada masyarakat Bali Aga tidak terlalu kuat, namun pada masyarakat Bali Arya sangat kuat. Kemudian dari segi fisik, kulit orang –orang Bali Arya cenderung lebih gelap dibandingkan Bali Aga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar